welcome and enjoy with my blog :))

Selasa, 20 November 2012

Perjuangan Tuna Netra Melawan Gelapnya Dunia

Penulis : Fabian Januarius Kuwado | Senin, 21 Mei 2012 | 05:51 WIB


|

Perjuangan Tuna Netra Melawan Gelapnya DuniaKOMPAS.COM/M Wismabrata
ilustrasi
JAKARTA, KOMPAS.com - Tidak bisa melihat bukan berarti berhenti berkarya dan lantas menyurutkan semangat kehidupan, inilah salah satu prinsip yang dipegang orang-orang penyandang disabilitas, terkhusus kaum tuna netra. Berbekal harap dan kerja keras, mereka mampu bertahan hidup ditengah gelapnya dunia.
Siapakah yang memperhatikan mereka? "Ya mungkin masih ada yang menganggap kita nggak mampu, masih banyak persepsi itu. Nggak usah itu lah, namanya awam, saya pakai kerudung aja ditanyain, emang bisa," ujar Istiqomah kepada Kompas.com beberapa waktu yang lalu.
Wanita berkerudung ini merupakan Kepala Biro Pemberdayaan Perempuan, Persatuan Tuna Netra Indonesia atau yang disingkat Pertuni. Organisasi yang berdiri sejak tahun 1966 ini merupakan wadah jalinan komunikasi sesama penyandang disabilitas, terutama kaum tuna netra bertaraf nasional.
Wanita yang buta sejak lahir ini menjelaskan, salah satu masalah yang dihadapi kaum tuna netra pada dasarnya adalah persepsi diskriminatif oleh orang awam terhadap orang-orang seperti dirinya. Dari persepsi inilah, menjadi akar masalah pengambilan kebijakan yang kurang berpihak pada kaumnya.
"Taruhlah mereka punya persepsi seperti itu, tapi paling nggak kan ada semacam tes dulu, benar nggak sih mereka bisa nggak melakukan pekerjaan itu," ujarnya.
Dari kurang lebih 900 orang anggota Pertuni di DKI Jakarta, bisa dihitung dengan jari berapa orang tuna netra yang bekerja di sektor formal, 70 persen lebih bekerja di sektor informal, seperti menjadi juru pijat, padahal sudah diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat.
Undang-undang tersebut mengamanatkan kuota satu persen bagi penyandang disabilitas di perusahaan atau lembaga pemerintahan. Namun, hingga kini implementasinya masih jauh dari harapan.
"Itu belum terealisasi dengan baik. Maunya hal itu pemerintah benar-benar memikirkan. Sehingga teman-teman kehidupannya meningkat," lanjutnya.
Fasilitas Penunjang Tuna Netra Di Kota Tak hanya masalah ketersediaan lapangan pekerjaan, termarginalkannya kaum tuna netra pun semakin terlihat dari terbatasnya fasilitas penunjang aktivitas kaum tuna netra di perkotaan.
Tak jarang, sisi kemanusiaan orang yang membantu menuntun tuna netra menyeberang jalan, terasa lebih berguna daripada deretan kata dalam peraturan daerah mengenai ketersediaan fasilitas umum bagi penyandang disabilitas.
"Dari kebutuhan-kebutuhan yang dibutuhkan penyandang disabilitas itu tidak banyak itu yang dibuktikan," tambah Sriyono, Bendahara Pertuni.
Dalam kesempatan yang sama, pria yang bergabung dalam organisasi sejak tahun 2004 silam ini pun membeberkan fasilitas apa saja di ibukota yang tidak disediakan bagi orang-orang seperti dirinya.
Antara lain bidang miring di setiap gedung yang berguna bagi orang yang menggunakan kursi roda, suara-suara sebagai penunjuk jalan, khususnya di jalanan umum, fasilitas wc umum bagi penyandang disabilitas dan lain sebagainya.
"Pemerintah ya mungkin belum tau apa yang kita butuhkan, kalaupun tau, kira-kira alokasi dananya lebih diprioritaskan kemana, kan gitu," ujarnya.
Sriyono menambahkan, secara organisasi, Pertuni kerap melakukan komunikasi baik dengan pemerintah pusat maupun pemerintah daerah mengenai segala permasalahan yang sebelumnya telah diungkapkan.
Namun janji tinggal lah janji, ia menganalogikan komunikasi yang kerap dilakukannya bagai dagang kecap. "Karena ya bicara birokrasi, pemerintah, itu kalau di depan rakyatnya seolah-olah kecap nomor satu, nggak ada kecap nomor dua mas," ujarnya serius.
Pilkada Jadi Harapan Bisingnya hiruk pikuk Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) DKI Jakarta juga dirasakan kaum tuna netra. Pesta demokrasi lima tahunan warga ibukota tersebut mau tak mau harus diikuti oleh kaum tuna netra yang memiliki hak pilih.
Namun, baik Istiqomah maupun Sriyono menegaskan sebagai organisasi yang independen, Pertuni tidak memiliki keberpihakan terhadap kepentingan politik tertentu. Berdasarkan pengalaman organisasi selama ini, dari enam pasang calon gubernur yang maju dalam Pilkada, Fauzi Bowo lah yang paling dikenal track recordnya.
"Kalau kemarin, Foke sudah terealisasi, care dengan kaum penyandang disabilitas. Tapi masih belum pas sih," lanjut Istiqomah.
Ia menganggap dari calon gubernur yang maju hanya mengedepankan permasalahan mainstream di ibukota, seperti kemacetan, pemukiman kumuh, sampah dan lain sebagainya.
Namun mereka lupa bahwa ada kelompok kecil bagian dari masyarakat, yang berharap 'dimanusiakan'. "Kita memilih yang visi-misinya menyebut tentang disabilitas, tapi sementara ini belum ada yang peduli," lanjutnya.
Sementara Sriyono berharap, Pilkada Jakarta kali ini mampu memancarkan sinar harapan bagi kaum tuna netra dalam segala permasalahannya. Karena bagaimanapun juga, kaum penyandang disabilitas merupakan bagian yang tak terelakan di masyarakat umum, dengan segala kondisinya.
"Kami ingin menunjukan tuna netra itu nggak selamanya lemah, kami punya potensi," tegasnya.
Editor :
Benny N Joewono

Mengenali Kanak-Kanak Disleksia

Perkataan “disleksia” (dyslexia) adalah hasil gabuangan dua perkataan Greek iaitu “Dys” yang bermaksud kesukaran dan “Lexis” bermaksud perkataan atau dengan kata lain, kesukaran menggunakan perkataan. Istilah ‘buta huruf’ juga digunakan untuk kategori ini. Seorang Profesor Berlin pada tahun 1887, merangkap seorang pakar perubatan dan ‘ophalomotologist’ telah memperkenalkan perkataan ‘Disleksia’ (Hammond dan Hugges, 1996:3)“Disleksia ialah satu ‘Disorder’ dalam kanak-kanak yang telah terima Pendidikan Biasa, tidak memperolehi kemahiran bahasa, bacaan, menulis dan ejaan yang setaraf intelek” (World Federation Of Neurology, 1968) Selain itu terdapat juga beberapa perkataan lain yang berkaitan dengan Disleksia, diantaranya ialah:
  • Dyscalculia (Diskalkulia) iaitu seorang disleksia yang bermasalah dalam pengiraan ataupun matematik
  • Dysgraphia (Disgrafia) iaitu seorang disleksis yang bermasalah dalam bahasa
  • Dyspraxia (Dispraksia) iaitu seorang disleksis yang bermasalah dalam ko-ordinasi moto-mata-tangan
APA ITU DISLEKSIA?
Disleksia adalah satu masalah pembelajaran iaitu kesukaran mengenal huruf, membaca, menulis, mendengar dan bercakap disebalik pengajaran yang cukup dan peluang budaya yang sempurna. Sebenarnya masalah ini bukanlah satu penyakit dan ia tidak memerlukan ubat untuk mengubatinya, sebaliknya dengan program pendidikan yang sesuai masalah ini dapat dikurangkan. Disleksia juga bukan disebabkan kecerdasan yang lemah serta penglihatan tetapi seseorang disleksia tidak mengecam sesuatu dalam keadaan terbalik. Ternyata sekali disleksia menghuraikan sesuatu kelainan dalam otak, selalunya ia adalah pemberian Tuhan yang terus berkembang dalam diri seseorang dengan cara yang berlainan.
SIAPA YANG MENGALAMI DISLEKSIA?
Disleksia melibatkan orang dari pelbagai latar belakang tanpa mengira umur, jantina atau bangsa. Disleksia biasanya boleh diperturunkan daripada ibu bapa kepada kanak-kanak.
Jenis-jenis Disleksia
Disleksia boleh dikategorikan kepada tiga bahagian iaitu :
Disleksia visual (penglihatan)
Kesukaran utama yang dihadapi ialah untuk mengigat dan mengenal abjad serta konfugirasi perkataan. Simbol-simbol perkataan yang dicetak juga sukar untuk diterjemahkan. Kemungkinan untuk melihat abjad-abjad tertentu atau sebahagian perkataan adalah secara terbalik

Disleksia auditori (pendengaran)
Kesukaran untuk mengingat bunyi abjad, menganalisis bunyi mengikut suku kata perkataan dan menyusun atau menggabungkan suku kata bagi menyembunyikan perkataan. Bunyi percakapan yang tuturkan secara halus juga tidak dapat dibezakan. Masalah untuk membezakan bunyi vokal dengan konsonan juga dihadapi oleh disleksia auditori
Disleksia visual-auditoriKesukaran mambaca yang amat teruk dan ini disebabkan oleh kelemahan untuk memproses tulisan secara visual dan audio

PUNCA-PUNCA DISLEKSIA
Mengikut Mercer, 1997; Hammond dan Hughes, 1996 dan Spaafford dan Grosser,1996, antara punca-punca disleksia ialah;
Keturunan atau genetik
Kebanyakan kes, terdapat beberapa ahli keluarga yang mengalami masalah-masalah yang sama. Kemungkinan punca ini boleh diwarisi yang membezakan adalah darjah keterukannya. Terdapat kajian yang dijalankan telah membuktikan disleksia desebabkan oleh kromosom 15, 1 dan 16 yang boleh diperturunkan secara turun-temurun
Biologi
Sejarah kanak-kanak disleksia biasanya adalah semasa dilahirkan tidak cukup bulan, kekurangan oksigen semasa dilahirkan atau kelahiran yang amat sukar. Faktor-faktor ini menjadi punca kelambatan atau ketidaksempurnaan perkembangan. Sebahagian daripada kerosakan otak yang menyebabkan kanak-kanak ini mengalami masalah belajar dan kerosalan ini minimum
Kematangan
Terdapat kanak-kanak yang lambat perkembangannya pada bahagian tertentu dalam sisitem saraf. Pada kebiasannya kanak-kanak lelaki lambat matang daripada kanak-kanak permepuan. Kelewatan kematangan pada kank-kanak merupakan salah satu kemungkinan punca disleksia


CIRI-CIRI DISLEKSIA
Kanak-kanak pra-sekolah :
- Kemahiran bertutur yang lambat dan sukar memahami arahan
- Suka mengganti perkataan dan hiperaktif
- Kemahiran motor kasar dan motor halus yang lemah
- Seringkali terlupa nama benda-benda atau pelajaran yang dipelajari
- Tidak merangkak semasa bayi
- Suka mendengar bacaan tetapi tidak berminat membaca sendiri
- Sifat ingin tahu tinggi, berminat terhadap pekara baru dan suka bertanya banyak soalan

Kanak-Kanak
Sekolah Rendah :
6 hingga 9 tahun
- Kemahiran membaca, menulis dan mengeja yang lemah dan suka menterbalikkan perkataan, huruf dan nombor
- Menggunakan jari untuk mengira dan membaca
- Keliru dengan kiri dan kanan
- Tulisan cermin atau terbalik

9 hingga 12 tahun

- Kesilapan membaca, mengeja dan lemah dalam kefahaman
- Mengambil masa yang panjang untuk menyiapkan latihan
- Kesukaran menyalin maklumat dipapan putih atau buku teks
- Sukar mengikuti arahan lisan yang panjang
- Kelihatan tidak terurus semasa berada dirumah atau sekolah
- Kurang keyakinan dan menghadapi masalah tekanan jiwa
Sekolah Menengah :
- Kesukaran membaca dan terkeliru dengan perkataan dan ejaan yang tidak konsisten
- Kesukaran menulis karangan
- Keliru dengan nombor-nombor dan arahan oral
- Kesukaran mempelajari bahasa lain
- Lemah dalam kefahaman dan tidak mempunyai ramai kawan
- Jenis orang yang suka senyap
- Bercakap dengan nada yang kuat atau menjerit daripada konsisten
- Kurang kemahiran bersosial


MASALAH KANAK-KANAK YANG MENGHADAPI DISLEKSIA

Masalah utama yang dihadapi kanak-kanak disleksia kebanyakanya adalah dalam proses pembelajaran. Permasalahan ini boleh dikelaskan kepada:

Mengeja

Kelemahan mengeja akan menyebabkan kebolehan untuk menyampaikan pengetahuan yang diperolehi adalah terhad. Untuk tempoh jangka masa yang panjang kelemahan dalam proses mengeja akan memberi kesan terhadap kelemahan membaca. Timbulnya masalah ini adalah berpunca daripada masalah-masalah awalan seperti terdapatnya kekeliruan dalam mengenal pasti huruf-huruf seperti:
m – w y –g – j u – n m – n

c – e p – q h – n b – d
Terdapat juga kekeliruan dalam membunyikan huruf seperti
t – h f – v

Membaca

Kesukaran ini menghadkan kebolehan kanak-kanak untuk mendapatkan maklumat daripada rujukan-rujukan yang berkaitan. Secara langsung ianya akan membuat kanak-kank merasa rendah diri dan tidak berkeyakinan. Mereka censerung menterbalikkan perkataan seperti:
Batu – tuba
Gula – lagu
Selain itu mereka juga melakukan pembalikkan dalam ayat. Contohnya seperti berikut:
pada masa yang sama – dapa masa yang masa
Kekeliruan perkataan antara Bahasa Melayu dengan Bahasa Inggeris. Contohnya seperti berikut :
Bahasa Inggeris dengan Bahasa Melayu
Jam – jem
cat – cat


Menulis

Kanak-kanak ini juga mengalami kesukaran untuk memindahkan maklumat ke atas kertas. Mereka juga mengalami kesukaran untuk memegang pensel dan tidak dapat menulis mengikut garisan yang disediakan. Kanak-kanak ini juga cenderung menulis perkataan yang pelik-pelik
Bercakap dan mendengar
Terdapat juga diatara mereka yang mengalami kesukaran untuk bertutur. Mereka juga kelihatan seperti tidak mendengar atau mempedulikkan. Hal ini berlaku disebabkan kelambatan dalam proses maklimat yang diperolehi. Mereka juga tidak melakukan atau menyusun sesuatu mengikut susunan.
Nombor
Kanak-kanak ini juga menghadapi kesukaran dalam pembelajaran yang berkaitan dengan matematik mental. Terdapat kekeliruan terhadap tanda dan simbol dan suka menterbalikkan nombor yang sama. Contohnya seperti berikut :
3 – 5 – 8
9 – 6

Masalah fizikal, pengurusan diri dan sosial
- Pakaian sentiasa tidak kemas tetapi tidak kotor dan pandai membutangkan baju, kidal dan pandai mengikat tali kasut
- Kelihatan berminat dalam pelajaran tetapi dilabel pemalas dan kelihatan bodoh
- Skop penglihatan yang terhad di mana keliru antara depan, belakang, kiri, kanan,, atas, bawah serta pengamatan yang lemah

LANGKAH-LANGKAH MENBANTU KANAK-KANAK DISLEKSIA

- Membawa berjumpa dengan pakar pisikologi pembelajaran atau psikologi klinikal pada peringkat awal bagi tujuan menaganinya
- Membantu kanak-kanak memahami bahawa walaupun dia mungkin berbeza dalam banyak hal tetapi tetap disayangi.
- Menambah dan menggalakkan sebarang kemahiran istimewa bakat atau kebolehan semulajadi
- Sentiasa sabar melayani karenah mereka yang mana biasanya kecewa dengan kegagalan yang berterusan.
- Membacakan cerita untuk anak-anak serta menjadi ahli persatuan sokongan ibu bapa
- Memberikan bantuan dan latihan pembelajaran sebelum memasuki tadika
- Mengamalkan suasan kasih sayang serta bersikap perihatin dalam mengekalkan suasana harmoni
- Membuat aktiviti berkeluarga serta memberi bimbingan dalam bidang akademik
- Memberi kebebasan yang terbatas serta nasihat untuk mengenal identiti sendiri
- Mengamalkan konsep diri diberi ganjaran atau pujian contohnya bagus, pandai


Sumber rujukan: Unit Pendidikan Khas SK Selayang Jaya

Anak ADHD, Kenali Gejalanya Sejak Dini


ADHD merupakan suatu gangguan perilaku yang ditandai dengan kurangnya perhatian(inattentiveness), aktivitas berlebihan (overactivity) dan perilaku impulsif (impulsivity) yang tidak sesuai dengan umumnya.


ADHD merupakan kelainan psikiatrik dan perilaku yang paling sering ditemukan pada anak. ADHD dapat berlanjut sampai masa remaja, bahkan dewasa. Pada anak usia sekolah, ADHD berupa gangguan akademik dan interaksi sosial dengan teman. Sementara pada anak dan remaja dan dewasa juga menimbulkan masalah yang serius.

Kurangnya perhatian adalah salah satu gejala anak ADHD. Biasanya anak selalu gagal memberi perhatian yang cukup terhadap detail. Biasanya anak ADHD selalu membuat kesalahan karena ceroboh saat mengerjakan pekerjaan sekolah, bekerja atau aktivitas lain. Sering sulit mempertahankan pemusatan perhatian saat bermain atau bekerja. Sering seperti tidak mendengarkan bila diajak bicara. Dan atau pelupa dalam aktivitas sehari-hari.

Gejala kedua yang harus diwaspadai adalah hiperaktivitas yang menetap selama 6 bulan atau lebih dengan derajat berat dan tidak sesuai dengan umur perkembangan. Gejala hiperaktivitas itu di antaranya anak sering bermain jari atau tidak dapat duduk diam. Ia sering kali meninggalkan kursi di sekolah atau situasi lain yang memerlukan duduk di kursi. Anak juga sering lari dan memanjat berlebihan di situasi yang tidak tepat, selalu bergerak seperti didorong motor.

Sedangkan pada gejala implusivitas, misalnya sering menjawab sebelum pertanyaan selesai ditanyakan, sering sulit menunggu giliran, dan sering menginterupsi atau mengganggu anak lain, misalnya menyela suatu percakapan.

 Anak ADHD sering dianggap anak nakal, malas, ceroboh, dan lain-lain. Padahal terapi yang tepat akan menghilangkan gejala pada anak ADHD
. Biasanya gejala hiperaktif-impulsif mulai terlihat anak ADHD sebelum umur 7 tahun. Gejala terjadi di dua situasi berbeda atau lebih, misal di sekolah dan di rumah.

Selain itu gejala bukan merupakan bagian gangguan perkembangan pervasif (autisme), schizophrenia, atau gangguan jiwa berat lain, dan bukan disebabkan gangguan mood, kecemasan atau ansietas, gangguan disosiasi atau gangguan kepribadian. Orang tua harus hati-hati dalam menentukan apakah anak ADHD atau tidak.

Untuk menegakkan diagnosis, diperlukan kombinasi keterangan mengenai riwayat penyakit, pemeriksaan medis, dan observasi terhadap perilaku anak. Keterangan ini sebaiknya diperoleh dari orang tua, guru, dan anak sendiri.

Observasi bisa dilakukan pada saat anak melakukan pekerjaan terstruktur di kelas, atau saat anak sedang bermain bebas bersama anak lain. Walaupun ADHD seharusnya muncul di setiap situasi, gejala mungkin tidak jelas bila anak ADHD sedang melakukan aktivitas yang disukainya, sedang mendapat perhatian khusus atau berada dalam situasi yang memberi penghargaan pada tingkah laku yang normal. Dengan demikian, pengawasan selintas di kamar praktik sering gagal untuk menentukan ADHD.

Bila dikelola dengan baik, ADHD bisa dicegah. Namun, bila tidak ditangani secara dini, kasus ADHD dapat menjadi pemicu pengguna awal minuman beralkohol, rokok, dan narkoba pada usia muda.

Anak Hiperaktif : Hindari Menu Makanan dengan Zat Aditif
Pada beberapa tahun ini, terdapat peningkatan jumlah anak hiperaktif. Anak Hiperaktif hanya mampu memperhatikan sesuatu dalam jangka pendek dan sulit berkonsentrasi. Mereka sulit belajar, sulit duduk diam dan kadang tidak tidur sama sekali.

Dalam studi skala besar mengenai anak hiperaktif pada 1960-an oleh dokter Ben Feingold, satu grup senyawa kimia bernama salisilat, ditemukan terutama di zat tambahan makanan, ternyata membuat anak-anak jadi lebih hiperaktif. Ketika anak-anak tersebut diberi donat yang berisi selai mengandung rasa dan warna artifisial, perilaku mereka memburuk hanya dalam beberapa jam.

Ia menyimpulkan bahwa banyak bahan kimia yang digunakan dalam makanan artifisial adalah salisilat. Ia menyatakan bahan-bahan kimia itulah akar masalah bagi beberapa anak.

Anak ADHD atau attention-deficit hyperactivity disorder, terbukti pula sensitif terhadap beberapa jenis zat kimia. Salah satu yang terburuk adalah pewarna tartrazine, dikenal dengan E102, parahnya zat pewarna ini menyebar di hampir seluruh jenis panganan dan minuman moderen, termasuk gula-gula, kue dan roti yang kerap dikonsumi anak.

Sejak itu, studi lain kian memperkuat pengaruh buruk zat aditif pada makanan dan ADHD. Studi-studi tadi menyimpulkan bahwa kombinasi pola makan berkualitas baik serta suplemen vitamin sederhana dapat mengubah kecerdasan dan perilaku anak-anak yang sulit dikendalikan.

Asam lemak esensial omega-3 dan -6 yang ditemukan pada minyak ikan juga krusial bagi pembentukan fungsi otak normal. Studi minyak ikan dari Universitas Oxford yang dipimpin Alex Richardson dengan reputasi mendunia, menyimpulkan bahwa enam puluh hingga tujuh puluh persen anak hiperaktif dan masalah serupa akan membaik secara nyata bila mengonsusi suplemem ekstrak minyak ikan murni dalam konsentrasi tinggi,

Pola makan ideal yang disarankan bagi anak-anak adalah makanan sehat yang bebas zat aditif, jika memungkinkan berbahan organik dengan menu bervariasi. Semua anak menikmati santapan manis sesekali, jadi lebih baik sediakan kue, biskui, pai atau pastri dan puding dalam rumah. Tentu lebih baik jika itu hasil karya orang tua sendiri, sehingga anda bisa memstikan mereka bebas dari zat pewarna dan perasa aditif.

Bila anda ingin lebih ketat lagi, berikut adalah daftar zat aditif yang patut dihindari

Pewarna Artifisial
102 tartrazine
104 quinoline yellow
107 yellow 2G
110 sunset yellow
122 azorubine, carmoisine
124 ponceau, brilliant scarlet
127 erythrosine
128 merah 2G 129 allura red
132 indigotine, indigo carmine
133 brilliant blue
142 green S, food green, acid brilliant green
151 brilliant black
155 brown, chocolate brown

Penyebab dan Cara Mengatasi Anak Hiperaktif
Selama ini, orang-orang terlanjur percaya pada mitos bahwa penyebab anak hiperaktif adalah dari pola pengasuhan yang kurang baik serta pola makan yang terlalu banyak mengkonsumsi gula. Namun setelah para peneliti melakukan penelitian lebih lanjut, ternyata ditemukan bahwa penyebab anak hiperaktif adalah adanya gangguan genetik yang terdapat pada DNA anak yang bersangkutan. Sebagai informasi, di seluruh dunia saat ini diperkirakan terdapat 3-5 persen anak yang hiperaktif.

Hiperaktif atau yang disebut juga dengan ADHD (Attention-Deficit and Hyperactivity Disorder) merupakan penyakit genetik dan membuat otak anak hiperaktif berkembang dengan kondisi berbeda dibandingkan dengan anak-anak yang normal. Dalam sebuah penelitian, didapati bahwa otak anak ADHD atau anak hiperaktif ternyata memiliki potongan kecil DNA yang terhapus maupun terduplikasi yang dikenal sebagai Copy Number Variants (CNVs). Area yang tumpang tindih tersebut berada di area tertentu yang terdiri dari beberapa gen yang berperan dalam perkembangan otak dan terkait dengan gangguan kejiwaan serta schizofrenia.

ADHD akan membuat anak ADHD impulsif sehingga melakukan sesuatu tanpa berpikir, merasakan kegelisahan yang berlebihan, mudah merasa terganggu serta biasanya mengalami kesulitan dalam pelajaran. Para ahli membagi anak ADHD dalam 3 tipe, yaitu 'tipe yang tidak bisa memusatkan perhatian', 'tipe yang hiperaktif dan impulsif' serta 'tipe gabungan' dari keduanya.

Pada tipe yang pertama, penderitanya tidak mengalami gejala hiperaktif maupun impulsif namun sangat mudah terganggu perhatiannya. Biasanya tipe ini terdapat pada anak-anak wanita, dengan gejalanya berupa sering melamun dan seolah merasa sedang berada di awang-awang. Pada tipe kedua, penderitanya menunjukkan gejala hiperaktif dan impulsif namun masih dapat berkonsentrasi dan memusatkan perhatian pada sesuatu. Biasanya tipe ini dapat ditemukan pada anak-anak kecil. Sementara pada tipe ketiga merupakan yang paling banyak ditemui, anak-anak penderitanya akan sulit memusatkan perhatian serta hiperaktif dan impulsif.

Sampai sekarang penyakit ADHD ini masih belum ditemukan obatnya, namun hasil penelitian di atas setidaknya dapat membantu mengungkapkan penyebab ADHD sebenarnya sehingga nantinya didapatkan pengobatan baru yang lebih efektif. Meski begitu, saat ini Anda dapat meminimalisir gejala hiperaktif tersebut dengan cara melakukan terapi perilaku anak hiperaktif disertai konsumsi obat-obatan.

Selain itu, anak hiperaktif juga dapat dibantu secara khusus oleh orangtua, guru, dokter serta lingkungan bermainnya dengan mengkondisikan suasana dan kegiatan yang sesuai untuk mereka. Dengan demikian, anak ADHD tersebut dapat menyalurkan tingkah laku hiperaktif serta masalah sulitnya memusatkan perhatian mereka secara lebih baik, seperti dengan membiarkan mereka melakukan aktivitas fisik yang dapat memberi kebebasan bergerak pada mereka. Anak ADHD biasanya juga mempunyai kecerdasan yang di atas rata-rata namun orangtua mereka sering tidak menyadarinya. Untuk itu, orangtua juga harus memperhatikan kecerdasannya dengan cara menyalurkan dan mengarahkan keaktifan mereka pada hal-hal yang positif seperti pada kegemaran dan hobi yang disukainya.

Mendidik anak hiperaktif pun berbeda caranya dengan mendidik anak-anak normal. Salah satu caranya adalah dengan menerapkan disiplin pada anak tanpa menghukumnya secara berlebihan bila sang anak melakukan kesalahan. Untuk menegakkan disiplin tersebut, orangtua dapat memulainya dengan membuat perjanjian kecil dengan sang anak agar mengerti mana hal yang baik dan benar, namun dengan cara yang tidak menyinggung mereka. Di atas semua itu, sangat penting bagi orangtua untuk menjaga komunikasi, bersabar dan lebih memberikan kasih sayang pada sang anak hiperaktif, serta mencurahkan perhatian terhadap semua tingkah lakunya agar tetap berada dalam kontrol.

Anak Tunadaksa dan Pendidikannya


I. SIAPAKAH ANAK TUNADAKSA
Istilah yang sering digunakan untuk menyebut anak tunadaksa, seperti cacat fisik, tubuh atau cacat orthopedi. Dalam bahasa asingpun sering kali dijumpai istilah crippled, physically handicapped, physically disabled dan lain sebagainya. Keragaman istilah yang dikemukakan untuk menyebutkan tunadaksa tergantung dari kesenangan atau alasan tertentu dari para ahli yang bersangkutan. Meskipun istilah yang dikemukakan berbeda-beda, namun secara material pada dasarnya memiliki makna yang sama.
A. Pengertian Anak Tunadaksa
Tunadakasa berasal dari kata “ Tuna “ yang berarti rugi, kurang dan “daksa“ berarti tubuh. Dalam banyak literitur cacat tubuh atau kerusakan tubuh tidak terlepas dari pembahasan tentang kesehatan sehingga sering dijumpai judul “Physical and Health Impairments“ (kerusakan atau gangguan fisik dan kesehatan). Hal ini disebabkan karena seringkali terdapat gangguan kesehatan. Sebagai contoh, otak adalah pusat kontrol seluruh tubuh manusia. Apabila ada sesuatu yang salah pada otak (luka atau infeksi), dapat mengakibatkan sesuatu pada fisik/tubuh, pada emosi atau terhadap fungsi-fungsi mental, luka yang terjadi pada bagian otak baik sebelum, pada saat, maupun sesudah kelahiran, menyebabkan retardasi dari mental (tunagrahita)
B. Klasifikasi Anak Tunadaksa
Pada dasarnya kelainan pada anak tunadaksa dapat dikelompokkan menjadi dua bagian besar, yaitu (1) kelainan pada sistem serebral (Cerebral System), dan (2) kelainan pada sistem otot dan rangka (Musculus Skeletal System).
1. Kelaian pada sistem serebral (cerebral system disorders).
Penggolongan anak tunadaksa kedalam kelainan sistem serebral (cerebral) didasarkan pada letak penyebab kelahiran yang terletak didalam sistem syaraf pusat (otak dan sumsum tulang belakang). Kerusakan pada sistem syarap pusat mengakibatkan bentuk kelainan yang krusial, karena otak dan sumsum tulang belakang sumsum merupakan pusat komputer dari aktivitas hidup manusia. Di dalamnya terdapat pusat kesadaran, pusat ide, pusat kecerdasan, pusat motorik, pusat sensoris dan lain sebagainya. Kelompok kerusakan bagian otak ini disebut Cerebral Palsy (CL).
Cerebral Palsy dapat diklasifikasikan menurut : (a) derajat kecacatan (b) topograpi anggota badan yang cacat dan (c) Sisiologi kelainan geraknya.
a. Penggolongan menurut derajat kecacatan
Menurut derajat kecacatan, cerebal palsy dapat digolongkan atas : golongan ringan, golongan sedang, dan golongan berat.
  1. Golongan ringan adalah : mereka yang dapat berjalan tanpa menggunakan alat, berbicara tegas, dapat menolong dirinya sendiri dalam kehidupan sehari-hari. Mereka dapat hidup bersama-sama dengan anak normal lainnya, meskipun cacat tetapi tidak mengganggu kehidupan dan pendidikannya.
  2. Golongan sedang : ialah mereka yang membutuhkan treatment/latihan khusus untuk bicara, berjalan, dan mengurus dirinya sendiri, golongan ini memerlukan alat-lat khusus untuk membantu gerakannya, seperti brace untuk membantu penyangga kaki, kruk/tongkat sebagai penopang dalam berjalan. Dengan pertolongan secara khusus, anak-anak kelompok ini diharapkan dapat mengurus dirinya sendiri.
  3. Golongan berat : anak cerebral palsy golongan ini yang tetap membutuhkan perawatan dalam ambulasi, bicara, dan menolong dirinya sendiri, mereka tidak dapat hidup mandiri ditengah-tengah masyarakat.
b. Penggolongan Menurut Topografi
Dilihat dari topografi yaitu banyaknya anggota tubuh yang lumpuh, Cerebrol Palsy dapat digolongkan menjadi 6 (enam) golongan yaitu:
  1. Monoplegia, hanya satu anggota gerak yang lumpuh misal kaki kiri sedang kaki kanan dan kedua tangannya normal.
  2. Hemiplegia, lumpuh anggota gerak atas dan bawah pada sisi yang sama, misalnya tangan kanan dan kaki kanan, atau tangan kiri dan kaki kiri.
  3. Paraplegia, lumpuh pada kedua tungkai kakinya.
  4. Diplegia, lumpuh kedua tangan kanan dan kiri atau kedua kaki kanan dan kiri (paraplegia)
  5. Triplegia, tiga anggota gerak mengalami kelumpuhan, misalnya tangan kanan dan kedua kakinya lumpuh, atau tangan kiri dan kedua kakinya lumpuh.
  6. Quadriplegia, anak jenis ini mengalami kelumpuhan seluruhnya anggota geraknya. Mereka cacat pada kedua tangan dan kedua kakinya, quadriplegia disebutnya juga tetraplegia.
c. Penggolongan menurut Fisiologi, kelainan gerak dilihat dari segi letak kelainan di otak dan fungsi geraknya (motorik), anak Cerebral Palsy dibedakan atas:
1) Spastik
Type Spastik ini ditandai dengan adanya gejala kekejangan atau kekakuan pada sebagian ataupun seluruh otot. Kekakuan itu timbul sewaktu akan digerakan sesuai dengan kehendak. Dalam keadaan ketergantungan emosional kekakuan atau kekejangan itu akan makin bertambah, sebaliknya dalam keadaan tenang, gejala itu menjadi berkurang. Pada umumnya, anak CP jenis spastik ini memiliki tingkat kecerdasan yang tidak terlalu rendah. Diantara mereka ada yang normal bahkan ada yang diatas normal.
2) Athetoid
Pada tipe ini tidak terdapat kekejangan atau kekakuan. Otot-ototnya dapat digerakan dengan mudah. Ciri khas tipe ini terdapat pada sistem gerakan. Hampir semua gerakan terjadi diluar kontrol. Gerakan dimaksud adalah dengan tidak adanya kontrol dan koordinasi gerak.
3) Ataxia
Ciri khas tipe ini adalah seakan-akan kehilangan keseimbangan, kekakuan memang tidak tampak tetapi mengalami kekakuan pada waktu berdiri atau berjalan. Gangguan utama pada tipe ini terletak pada sistem koordinasi dan pusat keseimbangan pada otak. Akibatnya, anak tuna tipe ini mengalami gangguan dalam hal koordinasi ruang dan ukuran, sebagai contoh dalam kehidupan sehari-hari : pada saat makan mulut terkatup terlebih dahulu sebelum sendok berisi makanan sampai ujung mulut.
4) Tremor
Gejala yang tampak jelas pada tipe tremor adalah senantiasa dijumpai adanya gerakan-gerakan kecil dan terus menerus berlangsung sehingga tampak seperti bentuk getaran-getaran. Gerakan itu dapat terjadi pada kepala, mata, tangkai dan bibir.
5) Rigid
Pada tipe ini didapat kekakuan otot, tetapi tidak seperti pada tipe spastik, gerakannya tanpak tidak ada keluwesan, gerakan mekanik lebih tampak.
6) Tipe Campuran
Pada tipe ini seorang anak menunjukan dua jenis ataupun lebih gejala tuna CP sehingga akibatnya lebih berat bila dibandingkan dengan anak yang hanya memiliki satu jenis/tipe kecacatan.
2. Kelainan pada Sistem Otot dan Rangka (Musculus Scelatel System)
Penggolongan anak tunadaksa kedalam kelompok system otot dan rangka didasarkan pada letak penyebab kelainan anggota tubuh yang mengalami kelainan yaitu: kaki, tangan dan sendi, dan tulang belakang.
Jenis-jenis kelainan sistem otak dan rangka antara lain meliputi:
a. Poliomylitis
Penderita polio adalah mengalami kelumpuhan otot sehingga otot akan mengecil dan tenaganya melemah, peradangan akibat virus polio yang menyerang sumsum tulang belakang pada anak usia 2 (dua) tahun sampai 6 (enam) tahun.
b. Muscle Dystrophy
Anak mengalami kelumpuhan pada fungsi otot. Kelumpuhan pada penderita muscle dystrophy sifatnya progressif, semakin hari semakin parah. Kondisi kelumpuhannya bersifat simetris yaitu pada kedua tangan atau kedua kaki saja, atau kedua tangan dan kedua kakinya.
Penyebab terjadinya muscle distrophy belum diketahui secara pasti.
Tanda-tanda anak menderita muscle dystrophy baru kelihatan setelah anak berusia 3 (tiga) tahun melalui gejala yang tampak yaitu gerakan-gerakan anak lambat, semakin hari keadaannya semakin mundur jika berjalan sering terjatuh tanpa sebab terantuk benda, akhirnya anak tidak mampu berdiri dengan kedua kakinya dan harus duduk di atas kursi roda.
II. APA PENYEBAB TUNADAKSA
Ada beberapa macam sebab yang dapat menimbulkan kerusakan pada anak hingga menjadi tunadaksa. Kerusakan tersebut ada yang terletak dijaringan otak, jaringan sumsum tulang belakang, pada sistem musculus skeletal. Adanya keragaman jenis tunadaksa dan masing-masing kerusakan timbulnya berbeda-beda. Dilihat dari saat terjadinya kerusakan otak dapat terjadi pada masa sebelum lahir, saat lahir, dan sesudah lahir.
A. Sebab-sebab Sebelum Lahir (Fase Prenatal)
Pada fase, kerusakan terjadi pada saat bayi masih dalam kandungan, kerusakan disebabkan oleh:
  1. Infeksi atau penyakit yang menyerang ketika ibu mengandung sehingga menyerang otak bayi yang sedang dikandungnya, misalnya infeksi, sypilis, rubela, dan typhus abdominolis.
  2. Kelainan kandungan yang menyebabkan peredaran terganggu, tali pusat tertekan, sehingga merusak pembentukan syaraf-syaraf di dalam otak.
  3. Bayi dalam kandungan terkena radiasi. Radiasi langsung mempengaruhi sistem syarat pusat sehingga struktur maupun fungsinya terganggu.
  4. Ibu yang sedang mengandung mengalami trauma (kecelakaan) yang dapat mengakibatkan terganggunya pembentukan sistem syaraf pusat. Misalnya ibu jatuh dan perutnya membentur yang cukup keras dan secara kebetulan mengganggu kepala bayi maka dapat merusak sistem syaraf pusat.
B. Sebab-sebab pada saat kelahiran (fase natal, peri natal)
Hal-hal yang dapat menimbulkan kerusakan otak bayi pada saat bayi dilahirkan antra lain:
  1. Proses kelahiran yang terlalu lama karena tulang pinggang ibu kecil sehingga bayi mengalami kekurangan oksigen, kekurangan oksigen menyebabkan terganggunya sistem metabolisme dalam otak bayi, akibatnya jaringan syaraf pusat mengalami kerusakan.
  2. Pemakaian alat bantu berupa tang ketika proses kelahiran yang mengalami kesulitan sehingga dapat merusak jaringan syaraf otak pada bayi.
  3. Pemakaian anestasi yang melebihi ketentuan. Ibu yang melahirkan karena operasi dan menggunakan anestesi yang melebihi dosis dapat mempengaruhi sistem persyarafan otak bayi, sehingga otak mengalami kelainan struktur ataupun fungsinya.
C. Sebab-sebab setelah Proses kelahiran (fase post natal)
Fase setelah kelahiran adalah masa mulai bayi dilahirkan sampai masa perkembangan otak dianggap selesai, yaitu pada usia 5 tahun.
Hal-hal yang dapat menyebabkan kecacatan setelah bayi lahir adalah:
1. Kecelakaan/trauma kepala, amputasi.
2. Infeksi penyakit yang menyerang otak.
3. Anoxia/hipoxia.
III. KARAKTERISTIK ANAK TUNADAKSA.
Derajat keturunan akan mempengaruhi kemanpuan penyesuaian diri dengan lingkungan, kecenderungan untuk bersifat pasif. Demikianlah pada halnya dengan tingkah laku anak tunadaksa sangat dipengaruhi oleh jenis dan derajat keturunannya. Jenis kecacatan itu akan dapat menimbulkan perubahan tingkah laku sebagai kompensasi akan kekurangan atau kecacatan.
Ditinjau dari aspek psikologis, anak tunadaksa cenderung merasa malu, rendah diri dan sensitif, memisahkan diri dari llingkungan. Disamping karakteristik tersebut terdapat beberapa problema penyerta bagi anak tunadaksa antara lain:
  • Kelainan perkembangan/intelektual
  • Ganguan pendengaran.
  • Gangguan penglihatan.
  • Gangguan taktik dan kinestetik.
  • Gangguan pesepsi
  • Gangguan emosi.
IV. BAGAIMANA IMPLIKASI PENDIDIKAN ANAK TUNADAKSA
Dalam dunia Pendidikan pada prinsipnya guru mempunyai peranan ganda. Disatu pihak, guru berfungsi sebagai pengajar, pendidik, dan pelatih bagi anak didik. Dipihak lain, guru berfungsi sebagai pengganti orang tua murid di sekolah. Dengan demikian secara tidak langsung mereka dituntut untuk menjadi manusia serba bisa dan serba biasa, lebih-lebih bila dihubungkan dengan kenyataan-kenyataan pada saat ini, yaitu bahwa orang tua dan masyarakat pada umumnya masih mempunyai anggapan yang keliru. Mereka berpendapat bahwa berhasil atau tidaknya pendidikan anak-anak mereka diserahkan sepenuhnya pada pihak sekolah, termasuk didalamnya para guru, tanpa ikut campur mereka.
Keadaan semacam ini lebih komplit lagi dalam dunia pendidikan luar biasa karena subjek didik yang dihadapi memiliki keterbatasan-keterbatasan tertentu, baik kemanpuan fisik, mental, emosi maupun dalam usaha penyesuaian diri dengan pihak luar atau lingkunagan sekitar. Oleh karena itu, tugas guru semakin berat yang dituntut keahlian serta keterampilan tertentu, baik dalam bidang metedologi yang bersifat khusus, maupun dalam bidang pelayanan terapi.
Pelayanan terapi yang diperlukan anak tunadaksa antara lain:
  • Latihan wicara (speech Therapy)
  • Fisioterapi
  • Occupational therapy
  • Hydro Therapy
Anak tunadaksa pada dasarnya sama dengan anak-anak normal lainnya. Kesamaan tersebut dapat dilihat dari fisik dan psiko-sosial. Dari segi fisik, mereka dapat makan, minum, dan kebutuhan yang tidak dapat ditunda dalam beberapa menit yaitu bernafas. Sedangkan dari aspek psiko-sosial, mereka memerlukan rasa aman dalam bermobilisasi, perlu afiliasi, butuh kasih sayang dari orang lain, diterima dan perlu pendidikan. Adapun unsur kesamaan kebutuhan antara anak tunadaksa dan anak normal, karena pada dasarnya mereka memiliki fitrah yang sama sebagai manusia.
Pandangan yang melihat anak tunadaksa dan anak normal dari sudut kesamaan akan lebih banyak memberikan layanan optimal untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya, ketimbang pandangan yang semata-mata mengekspos segi kekurangannya. Tidak dapat dipungkiri bahwa orang sering melihat orang lain tentang kelemahannya, sehingga yang muncul adalah kritik atau cemoohan. Kiranya demikian, andaikata kita melihat anak tunadaksa semata-mata dari kecacatannya. Oleh karena itu, pandangan yang mendahulukan sifat positif pada anak tunadaksa perlu dimasyarakatkan supaya kesempatan perkembangan dirinya yang baik semakin lebar. Pendidikan yang juga merupakan kebutuhan anak tunadaksa perlu direncanakan dan dilaksanakan dengan mengacu pada kemampuan masing-masing anak tunasaksa. Melalui pendidikan yang dapat dipertanggungjawabkan. Anak-anak tunadaksa diharapkan memiliki masa depan yang tidak selalu bergantung pada orang tua dan masyarakat.
V. BAGAIMANA MODEL PELAYANAN PENDIDIKAN
Sebagaimana diketahui, bahwa pendidikan bagi anak tidak selalu harus berlangsung disuatu lembaga pendidikan khusus, sebab sebagian dari mereka (anak tunadaksa) pendidikannya dapat berlangsung di sekolah dan kelas reguler/sekolah umum. Hal ini disebabkan oleh faktor kemampuan dan ketidakmampuan anak tunadaksa dan lingkungannya. Evelyn Deno, (1970) dan Ronald L Taylor, (1984) menjelaskan system layanan pendidikan bagi anak luar biasa (termasuk anak tunadaksa) yang bervariasi, mulai dari sistem pendidikan di kelas dan sekolah reguler/umum sampai pendidikan yang diberikan disuatu rumah sakit, bahkan sampai pada bentuk layanan yang tidak memiliki makna edukasi sama sekali, yakni layanan yang diberikan kepada anak-anak tunadaksa dalam perawatan medis dan bantuan pemenuhan kebutuhan sehari-hari.
Dari kenyataan di lapangan bahwa anak tunadaksa memiliki problema penyerta. Problema penyerta ini berbeda-beda antara seorang anak tunadaksa yang satu dengan anak tunadaksa yang lainnya, tergantung dari pada penyebab ketunaannya, berat ringannya ketunaannya. Atas dasar kondisi anak tunadaksa tersebut, maka model pelayanan pendidikannya dibagi pada “Sekolah Khusus” dan “Sekolah Terpadu/Inklusi”.
A. Sekolah Khusus
Pelayanan pendidikan bagi anak tunadaksa di sekolah khusus ini diperuntukkan bagi anak yang mempunyai problema lebih berat, baik problema penyerta intelektualnya seperti retardasi mental maupun problema penyerta kesulitan lokomosi (gerakan) dan emosinya.
Di sekolah khusus ini pelayanan pendidikannya dibagi menjadi dua unit, yaitu unit sekolah khusus bagi anak tunadaksa ringan, dan unit sekolah khusus bagi anak tunadaksa sedang.
1. Sekolah Khusus untuk Anak Tunadaksa Ringan (SLB-D)
Pelayanan pendidikan diunit tunadaksa ringan atau SLB-D diperlukan bagi anak tunadaksa yang tidak mempunyai problema penyerta retardasi mental, yaitu anak tunadaksa yang mempunyai intelektual rata-rata atau bahkan di atas rata-rata intelektual anak normal. Namun anak kelompok ini belum ditempatkan di sekolah terpadu/sekolah umum karena anak masih memerlukan terapi-terapi, seperti fisio terapi, speech therapy, occuppational therapy dan atau terapi yang lain. Dapat juga terjadi anak tunadaksa tidak ditempatkan di sekolah reguler karena derajad kecacatannya terlalu berat.
2. Sekolah Khusus untuk Anak Tunadaksa Sedang (SLB-D1)
Pelayanan pendidikan diunit ini, diperuntukkan bagi anak tunadaksa yang mempunyai problema seperti, emosi, persepsi atau campuran dari ketiganya disertai problema penyerta retardasi mental. Kelompok anak tunadaksa sedang ini mempunyai intelektual di bawah rata-rata anak normal.
B. Sekolah Terpadu/Inklusi
Bagi anak tunadaksa dengan problema penyerta relatif ringan, dan tidak disertai dengan problema penyerta retardasi mental akan sangat baik jika sedini mungkin pelayanan pendidikannya disatukan dengan anak-anak normal lainnya di sekolah reguler/sekolah umum. Karena anak tunadaksa tersebut sudah dapat mengatasi problema fisik maupun intelektual serta emosionalnya.
Namun walaupun kondisi penyerta anak tunadaksa cukup ringan, sekolah reguler yang ditunjuk untuk melayani pendidikannya perlu persiapan yang matang terlebih dahulu, baik persiapan sarana maupun prasarananya. Seperti persiapan aksesibilitas misalnya meminimalkan trap-trap atau tangga-tangga. Jika memungkinkan dibuatkan ramp-ramp untuk akses kursi roda, atau bagi anak yang khusus menggunakan alat bantu jalan lainnya seperti kruk atau wolker. Bentuk meja atau kursi belajar disesuaikan dengan kondisi anak. Hal demikian memerlukan persiapan yang lebih terencana, sehingga tidak menimbulkan problema tambahan bagi anak tunadaksa. Juga bentuk toilet, kloset harus dapat dipergunakan bagi anak yang menggunakan kursi roda. Disamping itu sistem guru kunjung dapat membantu memecahkan permasalahan yang mungkin timbul pada anak tunadaksa dikemudian hari.