Pendidikan khusus adalah pendidikan bagi peserta didik yang memiliki
tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik,
emosional, mental, intelektual, sosial, dan/atau memiliki potensi kecerdasan
dan bakat istimewa. Layanan bagi peserta didik
berkebutuhan khusus berkembang dari sistem yang sepenuhnya segregatif menuju
sistem yang lebih integratif. Konteks ini harus mendapat perhatian, karena
membawa dampak terhadap pengelolaan kurikulum. Dalam dekade terakhir juga
terjadi peningkatan secara signifikan perhatian pemerintah terhadap warga
negara yang karena berbagai faktor tidak dapat terjangkau oleh layanan
pendidikan yang tersedia. Anak berkebutuhan khusus adalah mereka yang secara
signifikan berada di luar rerata normal, baik dari segi fisik, inderawi,
mental, sosial, dan emosi sehingga mengalami hambatan untuk tumbuh dan
berkembang secara optimal, dan karenanya memerlukan pendidikan khusus.Sebagaimana
diketahui bahwa salah satu jenis anak berkebutuhan khusus atau anak luar biasa
adalah anak yang mengalami gangguan emosi dan tingkah laku atau yang lebih lazim
disebut anak tunalaras. Yang dimaksud dengan anak berkebutuhan khusus tunalaras
adalah seseorang yang mengalami gangguan atau hambatan emosi dan berkelainan
tingkahlaku serta kurang dapat menyesuaikan diri dengan baik terhadap
lingkungannya. Anak tersebut mempunyai kebiasaan melanggar norma-norma
kesusilaan, sopan santun, dan pergaulan masyarakat. Anak tersebut biasanya juga
suka melakukan kejahatan.Faktor penyebab tunalaras antara lain :
a. Kondisi keluarga yang tidak harmonis (broken home)
b. Kurangnya kasih sayang orang tua karena kehadirannya tidak diharapkan
c. Kemampuan sosial dan ekonomi rendah
d. Adanya konflik budaya yaitu adanya perbedaan pandangan antara keadaan sekolah dan kebiasaan keluarga
e. Berkecerdasan rendah atau kurang dapat mengikuti tuntutan sekolah
f. Adanya pengaruh negatif dari geng-geng atau kelompok-kelompok
g. Adanya gangguan atau kerusakan pada otak (brain damage)
h. Memiliki gangguan kejiwaan bawaan
a. Kondisi keluarga yang tidak harmonis (broken home)
b. Kurangnya kasih sayang orang tua karena kehadirannya tidak diharapkan
c. Kemampuan sosial dan ekonomi rendah
d. Adanya konflik budaya yaitu adanya perbedaan pandangan antara keadaan sekolah dan kebiasaan keluarga
e. Berkecerdasan rendah atau kurang dapat mengikuti tuntutan sekolah
f. Adanya pengaruh negatif dari geng-geng atau kelompok-kelompok
g. Adanya gangguan atau kerusakan pada otak (brain damage)
h. Memiliki gangguan kejiwaan bawaan
Bimbingan pribadi dan sosial adalah suatu proses pemberian bantuan
kepada individu anak gangguan emosi dan sosial untuk mengatasi
kesulitan-kesulitan atau masalah yang bersifat pribadi dan sosial sebagai
akibat dari kekurangmampuan anak dalam penyesuaian diri dengan lingkungannya.
Bimbingan bina pribadi dan sosial antara lain :
1.
Membina rasa Ketuhanan dan budi pekerti
Membina rasa Ketuhanan hakekatnya berbicara masalah kualitas keimanan.
Cara membina rasa Ketuhanan anak gangguan emosi dan tingkah laku antara lain
dimulai dengan menanamkan nilai dan norma iman, karena keimanan mengandung
nilai dan norma Ketuhanan.Hal ini dimaksudkan agar dapat menjadi perisai dari
agresi kejahatan, materi dan keputusasaan anak dalam hidup. Sifat mudah marah,
emosional, agresif, merusak dan mengganggu orang lain disebabkan karena
lemahnya kadar keimanan seseorang. Sehingga ia tidak ada rasa takut atas resiko
kerugian yang ditimbulkan dari perbuatannya.
Caranya :
a. Tanamkan pengertian melalui contoh-contoh
kongrit sederhana bahwa perbuatan melanggar norma agama membuahkan dosa dan
akan mendapatkan siksa.
b. Sebaliknya kepada anak juga perlu ditanamkan
pengertian bahwa perbuatan baik dan terpuji sesuai norma agama membuahkan
pahala dan akan mendapatkan imbalan dari Tuhannya.
c. Berikan
contoh-contoh kegiatan yang dapat menumbuhkembangkan pengetahuan, sikap dan
keterampilan dalam kehidupan keagamaan yang praktis dan fungsional.
Bimbingan budi pekerti pada anak gangguan
emosi dan sosial dimaksudkan agar anak menjadi manusia yang berbudi luhur,
sopan santun, andap asor, jujur, disiplin, dan memiliki rasa setia kawan.
Bentuk bimbingan budi pekerti antara lain :
a.
Menanamkan
sikap sopan santun
b.
Menganjurkan
berpakaian rapi dan bersih
c.
Petunjuk
menghindari perkelaian
d.
Menanamkan
sikap patuh pada tata tertib keluarga dan sekolah
e.
Memperbanyak
mengkaitkan materi pelajaran dengan nilai keagamaan
f.
Bimbingan
waktu luang
2.
Membina konsep diri dan pengenalan diri
Anak
tunalaras hidup dalam lingkungan sosial, ia berkomunikasi dengan lingkungan
sosialnya. Konsep dan pemahaman diri sangat diwarnai oleh hasil dari komunikasi
sosial, sehingga pada diri anak dapat timbul penilaian atas dirinya, baik
penilaian diri sebagai subyek maupun dirinya sebagai obyek. Untuk dapat
mendudukkan diri sebagai subyek dan sebagai obyek biasanya bertolak dari
persepsi diri terhadap kondisi fisik diri, kondisi psikis diri, dan kondisi
sosial diri.
Konsep
diri positif biasanya dilandasi oleh :
a. Pada
diri anak telah mengalami nilai dan prinsip tertentu
b. Dapat
menyesali tindakan sendiri yang ternyata salah (dapat merugikan diri dan orang
lain) dan bersedia memperbaikinya
c. Tidak
menghabiskan waktu yang tidak perlu dengan kecemasan
d. Memiliki
keyakinan pad kemampuan diri untuk mengatasi persoalan (kegagalan, kelainan)
sambil bertawakkal pada kepastian illahi
e. Merasa
setara dengan orang lain dan hanya nilai taqwa yang bisa membedakannya
Sedang persepsi negatif biasanya dilandasi
oleh adanya ketidaktahanan dalam menerima kritik atas dirinya, ejekan, sangat
responsif terhadap pujian, merasa tidak diperhatikan oleh orang lain.
Stuart & Sundeen (1991) mendeskripsikan
konsep diri yang terdiri atas gambaran diri, ideal diri, harga diri, peran, dan
identitas diri. Seseorang yang memiliki kepribadian yang sehat biasanya
dilandasi oleh gambaran diri yang positif dan akurat, ideal diri realistik,
konsep diri positif, harga diri yang tinggi, adanya kepuasan penampilan peran
serta adanya identitas diri yang jelas.
3.
Membina emosi/perasaan dan sikap sosial
Perasaan
sosial akan mempengaruhi sikap sosial seseorang. Perasaan sosial yang
altrimistis, egoistis, maupun individualis sama-sama tidak baik pengaruhnya
terhadap pembentukan sikap sosial. Adanya sikap sosial yang antipati dan
antipati juga tidak menguntungkan bagi perkembangan kepribadian seseorang. Anak-anak
tunalaras perlu dibina perasaan sosial dan sikap sosial yang positif.
Paling
tidak ada 2 aspek yang perlu ditanamkan kepada mereka yaitu :
a.
Kemampuan
mengadakan relasi sosial, seperti :
·
Kemampuan
bergaul
·
Bekerjasama
dengan orang lain
·
Dimilikinya
peran sosial yang sesuai dan jelas
·
Kemampuan
mengadakan penyesuaian sosial
b.
Kemampuan
mengadakan integrasi sosial
Hasil akhir dari pembinaan perasaan sosial
dan sikap sosial adalah anak dapat bergaul dan bekerjasama dengan orang lain
dalam kelompok, yahu akan perannya dan dapat menyesuaikan diri dengan peran
tersebut, dapat memahami tugas dan dapat melaksanakan tugasnya dengan baik,
dapat memahami batas-batas dari perilakunya, dapat menyesuaikan dengan lingkungan
sosial, etika pergaulan, agama dan tidak memisahkan diri, tidak rendah diri dan
tidak berlebihan serta mampu bergaul secara wajar dengan lingkungannya.
4.
Membina kehendak
Kehendak
adalah dorongan/kekuatan dari dalam untuk berbuat guna mancapai sesuatu yang
dikehendaki daan menghindrai sesuatu yang tidak dikehendaki. Kemauan adalah
kehendak yang berhubungan dengan kerokhanian.
a.
Membina
kebiasaan
Kebiasaan
yang sudah berlangsung lama dapat mewarnai kepribadian seseorang. Namun, anak
tunalaras perlu dilatih segala aktivitas yang positif dan konstruktif agar
apabila anak sanggup mengerjakannya berulang-ulang dapat membentuk kepribadian
yang baik. Misalnya kebiasaan hidup tertib, aktif beraktivitas, hidup bersih,
hidup sehat, rajin belajar.
b.
Membina
nafsu
Nafsu
merupakan dorongan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Nafsu ada beberapa macam
yaitu nafsu amarah (penggerak), nafsu musawwilah (penipu diri), nafsu lawwamah
(penimbang), nafsu muthmainnah (ketenangan/kesadaran). Dengan memahami nilai
dan norma agama, maka nafsu yang cenderung mendorong orang berbuat negatif dan
jahat dapat dicegah dan melahirkan nafsu muthmainnah.
c.
Membina
kecenderungan/kegemaran/hobby
Kecenderungan/kegemaran/hobby
adalah suatu dorongan yang datangnya relatif selalu timbul. Cara membina kecenderungan/kegemaran.hobby
antara lain dengan cara mengarahkan pada aktivitas yang positif dan tidak
bertentangan dengan nilai dan norma di masyarakat.
d.
Membina
kemauan
Kemauan
merupakan tenaga jiwa yang memberi ketetapan untuk menepati atau melaksanakan
keputusan bathin. Membina kemauan anak tunalaras adalah melalui menyalurkan
kemauan itu ke kegiatan yang positif, berikan hadiah dan hukuman yang sesuai,
biasakan berbuat baik guna membentuk kata hatinya. Kemauan pada hakekatnya
dapat dididik, oleh karena itu ada seloka sebagai berikut :
·
Keputusan
bathin akan dapat disepakati, kalau kemauan kuat
·
Kemauan
dapat kuat, kalau motif kuat
·
Motif
dapat kuat kalau berdasar keyakinan.
Jumba Hotel and Casino - Kambi - Kambi - JTHub
BalasHapusJumba Hotel 인천광역 출장샵 and Casino 경기도 출장안마 is a luxurious hotel located on the famous 목포 출장마사지 Andhra-Tutman. The guest 당진 출장안마 rooms are arranged so you don't have 진주 출장샵 to book or enter your hotel