welcome and enjoy with my blog :))

Jumat, 12 Oktober 2012

Contoh Telaah Kritis Terapi dan Edukasi Anak Autis


Direktur Pembinaan Sekolah Luar Biasa Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah (Mandikdasmen) Departemen Pendidikan Nasional Eko Djatmiko Sukarso menyatakan, UU Sisdiknas No20 Tahun 2003 mengamanatkan kepada pemerintah untuk menyelenggarakan pendidikan bagi semua masyarakat. “Pemerintah mengakui dan melaksanakan pendidikan khusus (PK) dan pendidikan layanan khusus (PLK) bagi penyandang autis,” sebutnya. 
Semua hal yang terkait dengan pembelajaran untuk anak-anak autis berpedoman pada Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Eko mengatakan, Diknas memberikan kebebasan kepada masing-masing sekolah untuk menentukan kurikulum bagi penyandang autis.
Dini Yusuf mengatakan, bergantung dari assessment (penilaian) awal yang dilakukan tiap sekolah. Penilaian ini perlu dilakukan sebelum sekolah menerima anak autis baru. Selain itu, penilaian awal ini juga melalui observasi langsung terhadap anak. Lamanya penilaian awal ini, menurut Dini,berbeda-beda.”Tetapi, dari sana, kami lalu menentukan jenis terapi dan juga kurikulum yang tepat buat sang anak,” ujarnya. Biasanya, terapi ini akan digabungkan dengan bermain agar lebih menyenangkan bagi anak autis. 
Kepala Sekolah khusus autis, AGCA Centre Bekasi Ira Christiana, mengatakan, sekolahnya memiliki berbagai macam bentuk terapi bagi penyandang autis. Di antaranya, terapi terpadu, wicara, integritas, dan fisioterapi. “Terapi apa yang diberikan tergantung dari kondisi anaknya,” sebutnya.
Penderita autis memiliki beberapa karakteristik seperti kesulitan berkomunikasi dan bersosialisasi, sering bertingkah aneh, dan tidak memiliki rasa takut akan bahaya. Tetapi mereka dapat mengingat informasi secara detail dan akurat. Ingatan visual mereka juga sangat baik dan mampu berkonsentrasi terhadap subyek atau pekerjaan tertentu dalam periode yang lama. Di tengah segala keterbatasan yang dimiliki, anak-anak berkebutuhan khusus juga memiliki bakat tersendiri. Di sinilah peran orang tua untuk melihat secara jeli bakat yang dimiliki anak.
Memang dibutuhkan kasih sayang dan kesabaran ekstra dalam mendidik anak autis. Jika bakat anak tersebut sudah mulai terlihat dan dibantu untuk mengasahnya, maka dalam jangka waktu yang tidak lama anak-anak tersebut akan memiliki bakat yang luar biasa yang dapat menghasilkan prestasi.
Seperti halnya Kharisma, penyandang autis yang sudah terkenal di Indonesia yang sering tampil di layas kaca kita. Di samping kekurangannya itu, dia memiliki berbagai macam kelebihan seperti dapat menghafal berbagai macam lagu, dapat menirukan pidato bapak presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan pidato siapapun, dengan melihat tanggal lahir seseorang dia dapat menebak hari, tanggal, dan tahun orang itu lahir(indigo), dapat menghafal merk-merk handphone, dan masih banyak lagi. Menurut Bapak Ciptawan, kepala sekolah SLB Negeri Semarang, beliaulah yang telah menemukan bakat dari Kharisma. Awalnya anak itu suka memainkan tangannya dengan mengetuk-ngetukkan tangannya pada meja, dan dari situlah beliau dapat menemukan bakat terpendam dari Kharisma yang pandai bernyanyi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar