welcome and enjoy with my blog :))

Senin, 08 Oktober 2012

Terapi dan Edukasi Anak Autis

Selama ini sering digembor-gemborkan mengenai kesetaraan hak untuk semua anak Indonesia agar dapat bersekolah di sekolah konvensional. Tetapi pada kenyataannya, anak-anak autis yang telah menjalani terapi tidak dapat langsung dimasukkan ke sekolah pada umumnya. Memang, ada sebagian anak autis yang dapat bersekolah di sekolah konvensional, namun tidak sedikit pula yang membutuhkan sekolah berkebutuhan khusus.
Maka itu, diperlukan gabungan antara terapi dan edukasi yang tepat sehingga anak-anak berkebutuhan khusus ini mampu untuk tumbuh dan belajar sesuai kemampuan dan keadaan mereka. Sistem pendidikan khusus dibentuk bagi anak berkebutuhan khusus lengkap dengan terapi, medis, dan edukasi yang memberi perubahan besar terhadap perkembangan mereka.
Yang menjadi permasalahan, sekolah untuk gangguan perilaku, seperti halnya autisme, masih jarang ditemukan. Menjawab kebutuhan tersebut, Klinik Anakku dan lembaga pendidikan khusus Kits4kids, mengembangkan sebuah terapi edukasi bagi anak dengan gangguan perilaku.
“Di Anakku Kits4Kids, anak diberi terapi dan pendidikan yang efektif seperti membangun komunikasi, kognisi, latihan, bahasa, sentuhan dan pijat, hingga terapi musik dan instrumen sesuai, dengan tingkatan usia dan kemampuan,” ujar pakar pendidikan anak, Prof Dr Eric Lim.
Program pendidikan kebutuhan khusus melibatkan afeksi, perilaku, dan kognisi anak. Hasilnya akan dievaluasi dalam waktu tertentu untuk melihat kemajuan anak.

Anak-anak autis memiliki beberapa keterbatasan dalam kemampuan belajarnya dan memiliki ketidakseimbangan antara EQ dan IQ. Anak autis umumnya memiliki IQ tinggi, tetapi tidak fungsional. Contohnya, banyak anak autis yang sangat hafal perkalian, tetapi tidak dapat menerapkannya dalam kehidupan nyata.
Beberapa anak autis ada yang mendapat nilai sangat baik dalam mata pelajaran bahasa namun mendapat nilai yang sangat buruk dalam kemampuan berhitung, atau sebaliknya.
Maka, pendidikan anak autis memang sebaiknya ditekankan pada apa yang bisa dilakukan dan disukai. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengenali potensi kemampuan anak.
"Hal pertama yang perlu dilakukan adalah mengenali minat dan bakat anak. Hal yang kedua adalah melakukan evaluasi oleh profesional, bisa lewat tes bakat dan minat oleh psikolog atau lewat tes fingerprint. Namun tes fingerprint tidak dianjurkan untuk anak berkebutuhan khusus karena ada beberapa kemampuan anak yang tidak optimal,"kata Tri Gunadi, AMd. OT., S.Psi., S.Ked, konsultan anak berkebutuhan khusus dan dosen vokasi kedokteran Okupasi Terapi UI dalam acara Cares for Autism yang diselenggarakan London School of Public Relation di Taman Menteng, Jakarta, Sabtu (14/4/2012).
Setelah mengetahui minat dan bakat anak, maka anak autis sebaiknya mempertimbangkan untuk mengikuti pendidikan vokasional yang berfokus dalam pengembangan potensi dan kemampuan yang dimiliki.
Dalam pendidikan vokasional, orangtua dan anak perlu memilih apakah masih akan tetap meneruskan pendidikan formal atau tidak.

Pada beberapa kasus, ada anak yang memiliki nilai bagus dalam pendidikan formal, maka dia boleh-boleh saja meneruskan pendidikan formal. Tapi jika anak tersebut memang terlihat kesulitan mengikuti pendidikan formal, maka sebaiknya anak diberikan pendidikan vokasional sepenuhnya.
"Vokasi secara harfiah berarti kerja. Pendidikan vokasional adalah pendidikan yang berhubungan dengan kerja. Konsep vokasional berbasis dari bakat, minat, dan kemampuan anak yang diarahkan sejak dini. Pendidikan vokasional adalah pendidikan yang ideal untuk anak berkebutuhan khusus, terutama anak autis,"kata Gunadi.
Pendidikan vokasional sebaiknya diberikan sejak anak berusia 10 tahun setelah anak-anak autis selesai menjalani berbagai macam terapi untuk meningkatkan kemampuan emosi, komunikasi, dan interaksinya.
Apabila terapi yang diberikan belum selesai atau tidak berjalan baik, biasanya anak masih sulit untuk mengembangkan potensinya agar dapat mengikuti pendidikan vokasional.

Ada berbagai macam pendidikan vokasional yang bisa diberikan, mulai dari tingkat rendah seperti mengaduk-aduk roti, membersihkan, hingga keterampilan kerajinan tangan, keterampilan salon, bermusik dan desain grafis. Pilihan ini tentu disesuaikan dengan kemampuan anak.
Sayangnya, pendidikan vokasional yang ada saat ini lebih berfokus pada jenjang SMK dan Diploma. Untuk anak-anak usia 10 tahun ke atas dan SMP, pendidikan vokasional baru bisa diperoleh lewat kursus. Saat ini, Gunadi sedang menyusun sebuah program yang disebut Pusat Vokasional untuk anak SD dan SMP dan akan diujicoba di Yogyakarta. Harapannya, program ini bisa memberikan alternatif pendidikan bagi anak-anak autis agar dapat mengoptimalkan potensinya yang dimiliki.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar