welcome and enjoy with my blog :))

Minggu, 07 Oktober 2012

Bina Pribadi dan Sosial Anak Tunalaras


Pendidikan khusus adalah pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, sosial, dan/atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa. Layanan bagi peserta didik berkebutuhan khusus berkembang dari sistem yang sepenuhnya segregatif menuju sistem yang lebih integratif. Konteks ini harus mendapat perhatian, karena membawa dampak terhadap pengelolaan kurikulum. Dalam dekade terakhir juga terjadi peningkatan secara signifikan perhatian pemerintah terhadap warga negara yang karena berbagai faktor tidak dapat terjangkau oleh layanan pendidikan yang tersedia. Anak berkebutuhan khusus adalah mereka yang secara signifikan berada di luar rerata normal, baik dari segi fisik, inderawi, mental, sosial, dan emosi sehingga mengalami hambatan untuk tumbuh dan berkembang secara optimal, dan karenanya memerlukan pendidikan khusus.Sebagaimana diketahui bahwa salah satu jenis anak berkebutuhan khusus atau anak luar biasa adalah anak yang mengalami gangguan emosi dan tingkah laku atau yang lebih lazim disebut anak tunalaras. Yang dimaksud dengan anak berkebutuhan khusus tunalaras adalah seseorang yang mengalami gangguan atau hambatan emosi dan berkelainan tingkahlaku serta kurang dapat menyesuaikan diri dengan baik terhadap lingkungannya. Anak tersebut mempunyai kebiasaan melanggar norma-norma kesusilaan, sopan santun, dan pergaulan masyarakat. Anak tersebut biasanya juga suka melakukan kejahatan.Faktor penyebab tunalaras antara lain :
a. Kondisi keluarga yang tidak harmonis (broken home)
b. Kurangnya kasih sayang orang tua karena kehadirannya tidak diharapkan
c. Kemampuan sosial dan ekonomi rendah
d. Adanya konflik budaya yaitu adanya perbedaan pandangan antara keadaan sekolah dan kebiasaan keluarga
e. Berkecerdasan rendah atau kurang dapat mengikuti tuntutan sekolah
f. Adanya pengaruh negatif dari geng-geng atau kelompok-kelompok
g. Adanya gangguan atau kerusakan pada otak (brain damage)
h. Memiliki gangguan kejiwaan bawaan
Bimbingan pribadi dan sosial adalah suatu proses pemberian bantuan kepada individu anak gangguan emosi dan sosial untuk mengatasi kesulitan-kesulitan atau masalah yang bersifat pribadi dan sosial sebagai akibat dari kekurangmampuan anak dalam penyesuaian diri dengan lingkungannya.

Bimbingan bina pribadi dan sosial antara lain :
1.         Membina rasa Ketuhanan dan budi pekerti
Membina rasa Ketuhanan hakekatnya berbicara masalah kualitas keimanan. Cara membina rasa Ketuhanan anak gangguan emosi dan tingkah laku antara lain dimulai dengan menanamkan nilai dan norma iman, karena keimanan mengandung nilai dan norma Ketuhanan.Hal ini dimaksudkan agar dapat menjadi perisai dari agresi kejahatan, materi dan keputusasaan anak dalam hidup. Sifat mudah marah, emosional, agresif, merusak dan mengganggu orang lain disebabkan karena lemahnya kadar keimanan seseorang. Sehingga ia tidak ada rasa takut atas resiko kerugian yang ditimbulkan dari perbuatannya.
Caranya :
a. Tanamkan pengertian melalui contoh-contoh kongrit sederhana bahwa perbuatan melanggar norma agama membuahkan dosa dan akan mendapatkan siksa.
b. Sebaliknya kepada anak juga perlu ditanamkan pengertian bahwa perbuatan baik dan terpuji sesuai norma agama membuahkan pahala dan akan mendapatkan imbalan dari Tuhannya.
c. Berikan contoh-contoh kegiatan yang dapat menumbuhkembangkan pengetahuan, sikap dan keterampilan dalam kehidupan keagamaan yang praktis dan fungsional.
Bimbingan budi pekerti pada anak gangguan emosi dan sosial dimaksudkan agar anak menjadi manusia yang berbudi luhur, sopan santun, andap asor, jujur, disiplin, dan memiliki rasa setia kawan. Bentuk bimbingan budi pekerti antara lain :
a.       Menanamkan sikap sopan santun
b.      Menganjurkan berpakaian rapi dan bersih
c.       Petunjuk menghindari perkelaian
d.      Menanamkan sikap patuh pada tata tertib keluarga dan sekolah
e.       Memperbanyak mengkaitkan materi pelajaran dengan nilai keagamaan
f.       Bimbingan waktu luang

2.         Membina konsep diri dan pengenalan diri
Anak tunalaras hidup dalam lingkungan sosial, ia berkomunikasi dengan lingkungan sosialnya. Konsep dan pemahaman diri sangat diwarnai oleh hasil dari komunikasi sosial, sehingga pada diri anak dapat timbul penilaian atas dirinya, baik penilaian diri sebagai subyek maupun dirinya sebagai obyek. Untuk dapat mendudukkan diri sebagai subyek dan sebagai obyek biasanya bertolak dari persepsi diri terhadap kondisi fisik diri, kondisi psikis diri, dan kondisi sosial diri.
Konsep diri positif biasanya dilandasi oleh :
a. Pada diri anak telah mengalami nilai dan prinsip tertentu
b. Dapat menyesali tindakan sendiri yang ternyata salah (dapat merugikan diri dan orang lain) dan bersedia memperbaikinya
c. Tidak menghabiskan waktu yang tidak perlu dengan kecemasan
d. Memiliki keyakinan pad kemampuan diri untuk mengatasi persoalan (kegagalan, kelainan) sambil bertawakkal pada kepastian illahi
e. Merasa setara dengan orang lain dan hanya nilai taqwa yang bisa membedakannya
Sedang persepsi negatif biasanya dilandasi oleh adanya ketidaktahanan dalam menerima kritik atas dirinya, ejekan, sangat responsif terhadap pujian, merasa tidak diperhatikan oleh orang lain.
Stuart & Sundeen (1991) mendeskripsikan konsep diri yang terdiri atas gambaran diri, ideal diri, harga diri, peran, dan identitas diri. Seseorang yang memiliki kepribadian yang sehat biasanya dilandasi oleh gambaran diri yang positif dan akurat, ideal diri realistik, konsep diri positif, harga diri yang tinggi, adanya kepuasan penampilan peran serta adanya identitas diri yang jelas.
3.         Membina emosi/perasaan dan sikap sosial
Perasaan sosial akan mempengaruhi sikap sosial seseorang. Perasaan sosial yang altrimistis, egoistis, maupun individualis sama-sama tidak baik pengaruhnya terhadap pembentukan sikap sosial. Adanya sikap sosial yang antipati dan antipati juga tidak menguntungkan bagi perkembangan kepribadian seseorang. Anak-anak tunalaras perlu dibina perasaan sosial dan sikap sosial yang positif.
Paling tidak ada 2 aspek yang perlu ditanamkan kepada mereka yaitu :
a.       Kemampuan mengadakan relasi sosial, seperti :
·      Kemampuan bergaul
·      Bekerjasama dengan orang lain
·      Dimilikinya peran sosial yang sesuai dan jelas
·      Kemampuan mengadakan penyesuaian sosial
b.      Kemampuan mengadakan integrasi sosial
Hasil akhir dari pembinaan perasaan sosial dan sikap sosial adalah anak dapat bergaul dan bekerjasama dengan orang lain dalam kelompok, yahu akan perannya dan dapat menyesuaikan diri dengan peran tersebut, dapat memahami tugas dan dapat melaksanakan tugasnya dengan baik, dapat memahami batas-batas dari perilakunya, dapat menyesuaikan dengan lingkungan sosial, etika pergaulan, agama dan tidak memisahkan diri, tidak rendah diri dan tidak berlebihan serta mampu bergaul secara wajar dengan lingkungannya.
4.         Membina kehendak
Kehendak adalah dorongan/kekuatan dari dalam untuk berbuat guna mancapai sesuatu yang dikehendaki daan menghindrai sesuatu yang tidak dikehendaki. Kemauan adalah kehendak yang berhubungan dengan kerokhanian.
a.       Membina kebiasaan
Kebiasaan yang sudah berlangsung lama dapat mewarnai kepribadian seseorang. Namun, anak tunalaras perlu dilatih segala aktivitas yang positif dan konstruktif agar apabila anak sanggup mengerjakannya berulang-ulang dapat membentuk kepribadian yang baik. Misalnya kebiasaan hidup tertib, aktif beraktivitas, hidup bersih, hidup sehat, rajin belajar.
b.      Membina nafsu
Nafsu merupakan dorongan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Nafsu ada beberapa macam yaitu nafsu amarah (penggerak), nafsu musawwilah (penipu diri), nafsu lawwamah (penimbang), nafsu muthmainnah (ketenangan/kesadaran). Dengan memahami nilai dan norma agama, maka nafsu yang cenderung mendorong orang berbuat negatif dan jahat dapat dicegah dan melahirkan nafsu muthmainnah.
c.       Membina kecenderungan/kegemaran/hobby
Kecenderungan/kegemaran/hobby adalah suatu dorongan yang datangnya relatif selalu timbul. Cara membina kecenderungan/kegemaran.hobby antara lain dengan cara mengarahkan pada aktivitas yang positif dan tidak bertentangan dengan nilai dan norma di masyarakat.
d.      Membina kemauan
Kemauan merupakan tenaga jiwa yang memberi ketetapan untuk menepati atau melaksanakan keputusan bathin. Membina kemauan anak tunalaras adalah melalui menyalurkan kemauan itu ke kegiatan yang positif, berikan hadiah dan hukuman yang sesuai, biasakan berbuat baik guna membentuk kata hatinya. Kemauan pada hakekatnya dapat dididik, oleh karena itu ada seloka sebagai berikut :
·      Keputusan bathin akan dapat disepakati, kalau kemauan kuat
·      Kemauan dapat kuat, kalau motif kuat
·      Motif dapat kuat kalau berdasar keyakinan.

1 komentar:

  1. Jumba Hotel and Casino - Kambi - Kambi - JTHub
    Jumba Hotel 인천광역 출장샵 and Casino 경기도 출장안마 is a luxurious hotel located on the famous 목포 출장마사지 Andhra-Tutman. The guest 당진 출장안마 rooms are arranged so you don't have 진주 출장샵 to book or enter your hotel

    BalasHapus